Puisi Untuk Menghibur Pacar yang Lagi Sedih

  • Bagikan
Puisi tentang rindu untuk sang kekasih

HITAM PUTIH – Saat sedang jatuh cinta, biasanya kamu ingin selalu dekat dengan kekasihmu. Kamu merasa pacarmu akan selalu melengkapi hari-harimu sehingga menjadi lebih berwarna.

Kamu juga akan mengungkapkan rasa sayangmu dengan berbagai cara agar pacarmu makin mengetahui betapa berharganya dia di matamu dan seberapa besar sayangmu kepada dia.

Memberikan Puisi cinta romantis dapat melekatkan hubungan yang selama ini telah terjalin. Puisi cinta tersebut juga dapat kamu jadikan sebagai sarana menghibur kekasihmu jika sedang memiliki suasana hati yang sedang tidak baik.

Puisi cinta yang kamu buat dapat kamu kirimkan melalui media sosial atau pun mengatakannya secara langsung agar terkesan romantis di hadapan pasanganmu.

Berikut Puisi cinta romantis untuk kekasih, yang dapat kamu jadikan ungkapan isi hati, seperti dirangkum dari hitamputih.co.id.

Puisi untuk pacar LDR

Kita memang tak bisa menyiasati pertemuan
Usia bisa menggambar pelukan demi pelukan
Tanpa bingung mempertegar lekuk bayangan

Tiap hari segera padam dan kepastian melesat
Memiuh-miuh nasib kita: sepasang anak burung
yang kedinginan mengenali bahaya

Kita memang tak bisa mengekalkan perjumpaan
Ingatan bisa menggambar kecupan demi kecupan

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu. Kita abadi.

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari

BACA JUGA :  Puisi Cinta Paling Romantis Bikin Baper Cewek

Cara menghibur pacar yang lagi sedih lewat chat

Puisi rindu

Langit yang hitam menjatuhkan jutaan pensil padaku, apa yang akan digambar di tubuhku, apakah rindu yang meluncur dari dingin matamu?

***

Telah kubisikkan namamu pada angin, semoga saja hujan mendengar dan lahir sungai abadi dari rintiknya, mengikis batu-batu dan seribu prasasti tercipta untukmu.

***

Bulan tenggelam di teluk matamu, aku tak mampu mencegah hatiku, terhanyut ombaknya ke dalam rindu.

***

Selembar puisi seperti uang kertas, yang merah lebih berharga, tetapi aku hanya bisa membeli rindu dan segelas bayangmu.

***

Sekalipun nafasku tak cukup panjang, kau akan lihat angin yang membawa daun-daun dari kepingan hatiku.

***

Tak cukup daun-daun mewakili hembusan angin senja, tak cukup awan lembayung mewakili teduhnya cuaca, ada gemuruh tak ada hujan, siapakah yang dapat mewakili pelukan selain engkau?

***

Apa lagi selain menggambar rindu, hanya ada pensil hitam dan bayangmu.

***

Sepasang matamu dan spasi di antaranya, adalah kalimat yang membuat seseorang berhenti bicara, lalu menulis hingga akhir hayatnya.

***

Di jemarimu yang lentik bagai anak-anak sungai, siapa pun ingin membangun jembatan, jembatan rindu jembatan cinta, apa pun namanya.

***

Berat menanggung ransel rindu, kudaki tebing terjal hatimu, pelukan ini hanyalah cara … memperkecil jarak yang kutempuh.

***

Dapatkah aku berhenti bicara tentangmu? bahasa tubuhku tak pernah kehabisan cara, menggambar bayangmu.

***

Pada pekat kabut kugambar garis partitur, barangkali akan terdengar olehmu sebuah lagu, barangkali akan terdengar olehmu debar jantungku.

***

Mengingatmu, napasku menerbangkan selembar kertas, sebuah puisi mengapung di udara, sekalipun tak menjelma kupu-kupu, siapa tahu itu akan sampai padamu.

***

Kau menggambar rindu di bibirku, dan gugurlah semua warna senja di tubuhku.

***

Kau menjelaskan rindu, tanpa satu pun kata. Irama jantungmu di dadaku, mengganti seluruh suara hujan yang pernah jatuh di sajakku.

***

Saat malam terlalu sunyi, aku mengumpulkan cahaya bulan yang menempel di kaca, dengan cara seperti itu, jantungku berdebar seakan sedang kusentuh wajahmu.

BACA JUGA :  Puisi cinta Romantis untuk Pacar Tersayang | Kata Mutiara

Puisi tentang rindu untuk sang kekasih

Aku menyulam rindu di dadamu, sebab kehangatan bukanlah di ujung kain yang membalut tubuhmu.

***

Bila daun-daun harus gugur karena cinta, biarlah aku menjadi kelopak-kelopaknya yang tak pernah memejamkan mata.

***

Ingin kutempatkan jantungku di sudut matamu, agar mudah bagiku selalu jatuh cinta padamu.

***

Biarkan cahaya bintang menyentuh keningmu, mengantarkan doa-doa heningku, betapa pada angin pun aku berbisik tentangmu.

***

Cintamu cahaya seluas cakrawala, rinduku setangkai kalbu merekah sebatang kara.

***

Yang tak pernah lepas dari ingatanku adalah perasaan memandangmu, jantungku kadang berdegup seakan kau duduk di depanku.

***

Matamu yang sejuk, menempatkan aku di antara gunung, sungai, gua, pantai, dan tebing-tebing terjal yang menjatuhkanku ke dalam rindu.

***

Tak ada kata yang mati dalam puisi, aku saja yang terkubur kalimat rindu.

***

Aku telah membelanjakan waktu. Inilah senja, keranjang tempat kukumpulkan rindu.

***

Keheningan rindu telah melampaui bukit dan lembah, menembus tebing dan kabut, mataku hanya ingin membeku dan abadi di puncak tatapanmu.

***

Cahaya bulan menerangi laut di pipimu, dan ombak yang berdebar-debar di ujung bibirku, tak mampu menahan hempasan rindu.

***

Ingin kubaca tiap hempasan ombak, mengapa rindu menentang berhenti dan terus melawan waktu, mengapa laut membentang di dadaku.

***

Semenit saja memandangmu, pahit luka rindu mengelupas dari bibirku. Semenit saja memejamkan mata, terlelap aku di pelukan senja.

***

Cintaku mengenal laut di matamu, rinduku mengenal ombak di bibirmu. Lengan-lenganmu sungai, di mana tubuhku selalu hanyut terbawa.

***

Apakah hujan ikut menanggung rindu. Berkali ia jatuh, di punggung dan dadaku, hanya untuk memelukku.

***

Aku tergelincir di atas rindu yang membasahi bulu matamu. Bulu mata yang telah ribuan kali berlinang, dalam cinta dan doa.

***

Di balik kelambu kau selalu mampu menjadi cahaya, yang menuntu rindu, menjauh dari kegelapan dan waktu.

BACA JUGA :  Puisi Tentang Persahabatan Sejati Penuh Makna Untuk Sekolah

***

Yang menghidupkan kata cinta, ialah spasi di antara jemarimu, yang memberi ruang bagi hurufku untuk merindukanmu.

Puisi rindu dalam diam

Merah yang membasahi bibirmu bukanlah gincu, tetapi gerimis yang tak mampu menulis rindu.

**

Aku melangkah menyeret rindu, menyelinap di antara kabut yang menyelimuti tubuhmu.

***

Kata-kata membuat sarang di rambutku, membawa ranting-rantingnya ke dalam pikiranku, ketika aku rindu, sebuah sajak lahir di situ.

***

Kau tak dapat menghitung ranting rindu di dadaku, lihatlah burung-burung yang riuh berterbangan ketika pelukanmu datang.

***

Dadaku rimba, sebab ada yang selalu berkicau merdu di dalamnya, di antara pohon-pohon rindu yang tak bisa kusebutkan satu-satu.

***

Aku tak ingin menafsirkan kata-kata di matamu, memandangmu saja semua rindu menjadi abu.

***

Matamu mata air, sebening-bening mata yang mampu memadamkan api rindu.

***

Rinduku yang tertinggal, kaujadikan kancing di bajumu. Kini, lepaskan kancing itu dan tanggalkan rindu.

***

Andai padamu aku bisa bertanya, mengapa langit yang luas tak dapat menahan hujan jatuh, lalu bagaimana aku mampu menahan rindu?

***

Aku tak bisa menceritakan rindu, tanpa menatap langit matamu, yang tenggelam perlahan ke dalam kalbu.

***

Rindu ialah rahmat, langit paling luas, di dalamnya angin dan gerimis, juga senyum manismu, menaburkan serbuk cinta pada kelopak mataku.

***

Ketika senja mengganti cakrawala, dari jauh kaupendarkan rindu, dan malam mengantarku pada cahaya di antara kedua matamu.

***

Aku memeluk harum tubuhmu, kau melepas penatku dalam rindu.

***

Mungkin cinta sembunyi di balik lenganmu, yang kaulukiskan dengan sabar, dalam kebaikanmu, yang kaudekapkan dalam debar, kerinduanmu.

***

Puisi ini cuma perahu di tengah samudera kecintaanku padamu.

***

Aku mengenal baik gerimis yang mencium tubuhku, aku kira kau jugalah angin itu, menangis di rambutku membisikkan betapa rindu.

***

Sepagi rindu diucapkan waktu, ada guguran embun di pintu, mengetuk subuhmu, lirih menyebut namamu.

***

Serintik apapun hujan pastilah membawa rindu, kusediakan tempat untukmu, dan kau akan datang sayup-sayup di hatiku.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *