Indonesia Dalam Ancaman Virus Delta Asal India, Lebih Menular dan Berbahaya

  • Bagikan
Indonesia Dalam Ancaman Virus Delta Lebih Menular dan Berbahaya, 11 Daerah di Pulau Jawa Diminta Bersiap
Indonesia Dalam Ancaman Virus Delta Lebih Menular dan Berbahaya, 11 Daerah di Pulau Jawa Diminta Bersiap

HITAM PUTIH – Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 11 daerah di luar Pulau Jawa mengalami indikasi peningkatan penularan varian Covid-19 jenis Delta.

Virus varian Delta atau B.1.617.2 merupakan penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh virus Corona yang telah bermutasi. Munculnya varian virus Corona baru ini pertama kali dilaporkan di India pada Desember 2020. Varian ini telah ditemukan di lebih dari 74 negara, termasuk Indonesia.

Tersebarnya COVID-19 varian Delta merupakan masalah kesehatan serius dan turut berperan dalam terjadinya lonjakan kasus positif COVID-19 di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Gejala COVID-19 Varian Delta

COVID-19 varian Delta bisa menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada setiap orang. Berbagai gejala COVID-19 akibat infeksi virus Corona varian Delta ini juga bisa bersifat ringan hingga berat.

Beberapa orang yang positif COVID-19 varian Delta tercatat tidak memiliki gejala, tetapi sebagian besar lainnya mengalami keluhan yang bertambah parah dalam waktu 3–4 hari.

BACA JUGA :  Diminta Putar Balik, Seorang Wanita di Cilegon Memaki Petugas

Berikut adalah beberapa gejala yang dapat muncul bila terkena COVID-19 varian Delta:

  • Demam
  • Pilek
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan

Di samping gejala tersebut, COVID-19 varian Delta juga mungkin akan menimbulkan gejala umum COVID-19 lainnya, seperti batuk, sesak napas, kelelahan, anosmia, nyeri otot, serta gangguan pencernaan. Hingga saat ini, gejala-gejala COVID-19 varian Delta masih terus dipantau dan diteliti. Selain itu, untuk mendiagnosis COVID-19, tetap diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang dari dokter, termasuk tes PCR.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi meminta daerah tersebut menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan menghadapi lonjakan Covid-19.

“Ada indikasi terjadi peningkatan penularan dan beberapa sudah kami konfirmasi ada varian Delta,” kata Budi saat hadir secara virtual dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (13/7).

Budi mengatakan daerah tersebut menyebar di beberapa pulau seperti lima daerah di Sumatera, dua daerah di Kalimantan, dua daerah di Sulawesi, satu daerah di Papua dan satu di Nusa Tenggara.

BACA JUGA :  Kunker Dewas BPJS Kesehatan, Membangun Sinergitas Elemen Mitra BPJS Kesehatan

Menurut Budi, sebanyak 11 daerah tersebut belum memiliki kemampuan sarana dan prasarana kesehatan yang maksimal baik seperti di DKI Jakarta maupun Pulau Jawa.

“Kami sudah sampaikan, harus kami amati dengan ketat karena kalau terjadi apa-apa di sana, kapasitas kesehatan mereka pasti jauh di bawah DKI Jakarta atau di bawah Jawa,” katanya.

Pemerintah beberapa kali membahas potensi ini untuk memastikan agar daerah di luar Pulau Jawa itu segara mempersiapkan rumah sakit, obat-obatan, oksigen dan sumber daya manusia (SDM).

“Rumah sakit, itu sudah di hilir dan itu sudah akibatnya. Kita harus benar-benar mendidik, mengajak semua rakyat agar di hulunya kita perketat,” katanya.

Upaya memperketat mobilitas penduduk di daerah tersebut, kata Budi, pemerintah pusat mengawasi melalui Google Mobility, Facebook Mobility, ataupun data dari satelit.

BACA JUGA :  Di Banten, Kapolri Luncurkan 100.000 Rumah Anggota Polri

“Targetnya menurunkan 20% kegiatannya. Sekarang masih berkisar antara 6% sampai 16%. Kalau ini tidak cepat-cepat kita turunkan rumah sakitnya akan berat tekanannya,” katanya.

Saat ini sekitar 90 ribu dari total sebanyak 120 ribu alokasi tempat tidur perawatan (Bed Occupancy Rate/BOR) bagi pasien Covid-19 di rumah sakit telah terisi dalam tujuh pekan terakhir dampak lonjakan kasus di sejumlah daerah.

Pemerintah menyiapkan skenario bila terjadi lonjakan pasien Covid-19 yang membutuhkan pelayanan rumah sakit. Dari skenario tersebut, rumah sakit di provinsi DI Yogyakarta dan DKI Jakarta bakal kesulitan menampung pasien.

“Kami membuat skenario ke depan menghitung kira-kira berapa yang harus kami tambah kalau kasusnya memburuk 30% dari sekarang dan sangat memburuk 60% dari sekarang,” kata Budi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *